BookMate-Reading Completes Me Competitive Intelligence|Ad Analysis by SocialPeta

SocialPeta
SocialPeta

Competitive intelligence is the first step in our marketing intelligence work and one of the most important parts. Only when we understand the details of our competitors can we formulate a correct and effective marketing strategy.

In this report, SocialPeta analyzes the BookMate-Reading Completes Me's ad analysis from multiple aspects and helps you see the competitive intelligence of top grossing apps BookMate-Reading Completes Me.

Now, I'll tell you how to gain a competitive advantage by SocialPeta.

1. Basic Information of BookMate-Reading Completes Me

App Name : BookMate-Reading Completes Me

Logo

BookMate-Reading Completes Me-SocialPeta

OS : iOS

Network : Facebook,Audience Network,Instagram

Developer : 超 尹

Publisher : Instagram

Total creative ads during the time period : 131

Duration : 42

Popularity : 7,831

Check ASO Keywords of BookMate-Reading Completes Me

2. BookMate-Reading Completes Me’s Competitive Intelligence

what is competitive intelligence? Competitive intelligence is the most important part of our marketing. Only when we fully understand the overall situation of our competitors and the market can we make accurate judgments.

Before advertising, we usually use various tools, such as SocialPeta, to check the details of competitors' ads. In this report, we will analyze the recent advertising performance of advertiser BookMate-Reading Completes Me in detail to understand its advertising strategy.

Trend of Category

There are many types of creatives. We mainly analyze the trend of the ad creative category of BookMate-Reading Completes Me in the recent period. As of 2020-10-29, among the BookMate-Reading Completes Me‘s ad creative, the Html category's proportion is 0.0%, Video category's proportion is 0.0%, Playable Ads category's proportion is 0.0%, Image category's proportion is 100.0%, Carousel category's proportion is 0.0%.

Ad Network Analysis

The network that SocialPeta monitors can cover almost all mainstream channels in the world. Understanding the competitor's advertising channels is the first step in marketing work. According to the analysis of SocialPeta, we can see that in the date of 2020-10-29, BookMate-Reading Completes Me's the proportion of networks impressions are placed like this:

Facebook's proportion is 100.0%,

's proportion is ,

's proportion is ,

's proportion is ,

's proportion is .

In the date of 2020-10-29, BookMate-Reading Completes Me‘s network with the most ads is Facebook and its proportion is 100.0%.

3. Top 3 Ad Creative Analysis of BookMate-Reading Completes Me

This is the detailed information of the top three ad creatives with the best performance among all ad creatives of BookMate-Reading Completes Me. We can see some advertising trends.

Top 1 Ad Creative of BookMate-Reading Completes Me

Ad Details :

Headline :Klik tombol untuk mengunduh dan membaca konten yang lebih menarik

Text :< CRAZY OF YOU UNCLE [INDONESIA] >
Untuk pertama kalinya, diusiaku yang sudah menginjak 17 tahun, aku menyesal telah dilahirkan dari rahim ibuku. Karena dia, om DAMIAN SCOTT. Karena aku mencintai uncleku sendiri. adik dari ibuku.
Jika cinta nya salah lalu siapa yang akan disalahkan? takdir? Tuhan? Tidak mungkin buka?
Lalu aku harus menerima takdir, atau menentang takdir tuhan?
Tatiana Jasmine Matthew
"Aku mencintaimu, Uncle." Kataku tanpa ragu.
Damian Scott
"Berhenti bermain-main. Kau keponakanku. Dan mungkin cinta yang kamu maksud adalah cinta dari kepnakan untuk uncle nya." Katanya tegas.
Tatiana tertawa sinis,
"Aku mencintaimu sebagai pria. Tidak peduli jika uncle tidak suka atau orang akan menganggapku aneh bahkan gila sekalipun" Tegas Tatiana.
"Itu tidak boleh terjadi. Itu adalah sebuah kesalahan, Tatiana." Damian mendekati Tatiana. Namun Tatiana memilih mundur beberapa langkah. Hatinya terasa teriris mendengar ucapan Damian yang mengatakan jika cintanya adalah sebuah kesalahan.
"Tidak peduli jika uncle menganggap seperti itu. Aku akan tetap mencintai uncle sebagai pria. Menurut uncle cintaku adalah sebuah kesalahan, tapi menurutku cinta yang aku punya adalah sebuah anugrah yang Tuhan berikan untukku." Tatiana tetap pada pendiriannya akan perasaannya terhadap Damian.
"Kumohon jangan seperti itu." Damian memandang sedih Tatiana.
Tatiana mengepalkan tangannya mendengar Damian memohon padanya. Ia pun melangkah maju mendekati Damian.
"Apa cinta itu salah? Jika benar salah, berapa juta bahkan milyar orang bersalah karena cinta?" Tatiana menatap nyalang kepada Damian.
"Cinta tidaklah salah. Tapi-"
Perkataan Damian terpotong karena Tatiana menarik kerah kemeja Damian dan mendaratkan bibirnya kepada bibir Damian.
"I love you uncle." Lantang Tatiana tanpa takut dan kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Damian.

Top 2 Ad Creative of BookMate-Reading Completes Me

Ad Details :

Headline :❤️❤️❤️❤️Unduh aplikasi untuk membaca lebih banyak konten menarik《The Escorted Wife》

Text :👉👉1.NIKAH SIRI👈👈

Pramudya Atmajaya (37 tahun), mengusap wajah dengan satu telapak tangan. Ditatapnya Evita Triana (32 tahun), istrinya. Mantan istri tepatnya, karena Pram sudah menjatuhkan talak pada Evita, tepat di hadapan orang tua Evita. Tapi mereka belum mengurus surat cerai mereka. "Itu syaratnya jika Mas ingin kita bersama lagi. Aku perlu bukti kalau Mas bisa mempunyai anak" ujar Evita pada Pram, ditatapnya wajah muram Pram dengan intens.
Anak, itulah akar dari permasalahan rumah tangga mereka. Mereka berdua terlahir sebagai anak tunggal, tuntutan untuk mempunyai momongan terus diucapkan orang tua kedua belah pihak. Mereka sudah 8 tahun menikah, tapi belum juga memiliki keturunan.
Meski pemeriksaan menyatakan mereka berdua sehat, tapi Evita meyakini kalau Pram lah yang memiliki kelemahan. Karena Evita sendiri sebelumnya pernah hamil sebelum menikah dengan Pram. Hamil saat ia masih sekolah, dan terpaksa digugurkan demi masa depannya. Karena itulah Evita sangat yakin, kalau dirinya sehat. Masalah keturunan yang menjadi problem rumah tangga mereka berasal dari Pram. Bukan dari dirinya. Orang tua Evita sangat menginginkan untuk segera memiliki cucu. Sehingga Evita meminta syarat itu pada Pram. Untuk pembuktian, kalau Pram benar-benar tidak mandul.
Pram mengusap wajah dengan satu tangannya. Permintaan Evita terasa di luar nalarnya. Bagaimana ia harus membayar seorang wanita, untuk dinikahi, ditiduri agar bisa hamil. Sebagai bukti kalau dirinya tidak mandul. Itu sangat tidak masuk akal bagi Pram. Tapi, itu yang harus ia lakukan, kalau ingin kembali pada Evita.
"Di mana aku harus mencari wanita yang bisa aku bayar untuk aku nikahi Vi?" Tanya Pram dengan perasaan bingung. Ia benar-benar tidak tahu, kemana mencari istri yang bisa ia kawin secara kontrak.
"Itu gampang Mas, Mas bisa minta carikan Pak Basuki, di kampungnya aku dengar banyak wanita yang bersedia kawin kontrak" jawab Evita.
“Apa tidak bisa kita rujuk tanpa syarat itu, Vi?”
“Tidak bisa,Mas.
"Aku menyesal sudah mengucapkan kata keramat itu padamu." Pram menggenggam tangan Evita lembut, sorot matanya sangat jelas menyiratkan cinta yang mendalam pada Evita. Cinta yang membuatnya tidak perduli akan masa lalu Evita.
Pram jatuh cinta pada pandang pertama dengan Evita. Saat itu mereka bertemu di acara pesta ulang tahun pernikahan orang tua Evita. Pram yang baru pulang dari menuntut ilmu di Amerika, tidak menolak sedikitpun saat orang tuanya dan orang tua Evita menyampaikan keinginan mereka untuk menjadi besan.
Evita anak tunggal, begitupun Pram juga. Pastinya kedua keluarga mengharapkan penerus dari pernikahan mereka.
Karena cintanya pada Evita, Pram tidak mempermasalahkan Evita yang sudah tidak perawan lagi. Karena Pram sendiripun memiliki kehidupan cukup bebas saat tinggal di luar negeri.
Namun, ditahun ke lima pernikahan mereka, mulai muncul riak-riak di antara mereka berdua. Mereka berdua sama-sama sibuk bekerja, tuntutan orang tua tentang keturunan membuat mereka kerap bertengkar dan saling menyalahkan. Pram meminta Evita berhenti bekerja, agar bisa fokus pada rumah tangga mereka. Tapi Evita menuding Pramlah yang bermasalah sehingga Evita belum hamil juga. Pram marah, dan semakin marah, saat Evita meminta cerai, dan mengatakan kalau ia akan membuktikan kalau ia bisa segera hamil bila menikah dengan pria lain. Hal itulah yang membuat Pram tanpa sadar mengucapkan talak di hadapan orang tua Evita. Ucapan yang sangat disesalinya. Evita bersedia rujuk kembali dengannya, dengan syarat seperti yang dikatakannya.
Hanum Lestari (17 tahun), gadis yatim piatu. Ia menatap Pak Basuki yang baru saja menyelamatkannya dari kekejaman ibu dan kakak tirinya. Ibu tiri dan kakak tirinya berniat menjualnya, untuk bisa melunasi hutang almarhum ayahnya. Untungnya Pak Basuki datang dengan membawa uang untuk melunasi hutang ayah Hanum, yang merupakan kakak kandung Pak Basuki sendiri.
Dan saat ini, Pak Basuki tengah menjelaskan tentang dari mana asal usul uang yang diakai untuk membayar hutang. Hanum mengerjapkan matanya, ia bingung harus berkata apa.
"Jujur, sebenarnya Paman pulang untuk mencari wanita di desa ini yang bersedia dinikahi oleh majikan Paman hanya untuk satu tahun saja. Tidak ada sedikitpun niat Paman untuk melibatkanmu, tapi uang yang harusnya Paman pakai untuk diberikan pada wanita yang bersedia ikut ke Jakarta. Sudah Paman pakai sebagian untuk membayar hutang almarhum ayahmu. Kawin kontrak memang bukanlah hal yang baik, tapi saat ini kita tidak punya pilihan Hanum. Setelah satu tahun dan kontrakmu berakhir, bisa kita pikirkan apa yang harus kamu lakukan, Hanum. Sekarang juga kamu harus bersedia menikah dengan majikan Paman, dia sedang menunggu di salah satu penginapan di kota kecamatan, ikutlah dengan Paman, bawalah pakaianmu seperlunya saja" ujar Pak Basuki.
"Ya Paman" hanya itu yang bisa Hanum ucapkan. Ia tidak tahu, apakah harus senang karena terbebas dari ibu tiri, dan kakak tirinya. Ataukah harus sedih karena akan menjadi wanita yang akan menjalani kehidupan sebagai istri bayaran.
Pram menatap Hanum dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. Daster batik yang warnanya sudah pudar, melekat di tubuh kecil Hanum yang bagi Pram tidak ada menariknya. Rambut panjangnyana hanya dikuncir satu di atas kepalanya yang menunduk dalam. Hanya kulitnya yang putih yang menarik perhatian Pram.
"Apa tidak ada lagi wanita yang lebih baik dari dia, Pak Basuki? Dia terlalu muda, masih bocah ingusan" ujar Pramudya tajam.
"Maaf Tuan, yang gadis tinggal Hanum ini yang saya kenal. Kalau yang lain sudah janda dari kawin kontrak juga" jawab Pak Basuki.
"Sebenarnya tidak masalah kalau janda, asalkan bisa taat pada kontrak yang akan ditanda tangani. Hmmm, tapi tidak apalah. Lalu siapa yang akan jadi wali nikahnya? Kenapa ayahnya tidak ikut datang ke sini?"
"Hanum ini yatim piatu Tuan, saya yang akan jadi walinya, karena ayahnya adalah kakak kandung saya"
"Ooh begitu. Baiklah, surat perjanjiannya sudah disiapkan oleh Malik, kau membawa orang yang akan menikahkan kami jugakan?" Tanya Pram pada Pak Basuki. Malik adalah pengacara sekaligus orang kepercayaan Pram.
"Ya Tuan"
"Ingat, hal ini jangan sampai terdengar oleh orang lain. Terutama orang tuaku, dan orang tua Evi, mereka tidak boleh tahu. Status, ehmm siapa tadi namanya?"
"Hanum, Tuan"
"Ya, status Hanum sama seperti statusmu dan juga istrimu. Paham Pak Basuki?"
"Paham Tuan" jawab Pak Basuki. Hanum masih berdiri di samping Pak Basuki dengan wajah menunduk. Ia tidak berani mengangkat kepalanya untuk melihat pria di hadapannya. Pria yang akan jadi suaminya hanya untuk sementara. Di kampungnya, hal seperti itu sudah biasa. Dan, Hanum tidak pernah menyangka, kalau ia akan terjebak dalam situasi seperti gadis lain di desanya.

👉👉2.KE JAKARTA👈👈

Akad nikah sudah berlangsung, di dalam kamar hotel tempat Pram menginap.
"Hari ini juga, kita pulang ke Jakarta."
"Baik Tuan," sahut Pak Basuki.
Dalam perjalanan menuju pulang, hari sudah beranjak malam. Pak Basuki duduk di depan bersama Malik, sedang Pram duduk berdua dengan Hanum di jok belakang. Sedikitpun Hanum tidak berani menatap wajah Pram, pandangannya ditujukan ke luar jendela. Menikmati pemandangan yang belum pernah dilihatnya. Karena ini pertama kalinya ia ke luar dari kampungnya.
Pram meminta Pak Basuki berhenti di sebuah rumah makan, untuk makan malam. Hanum tetap saja tidak berani menatap wajah pria yang sudah jadi suaminya. Ada kegelisahan yang dirasakannya, ada kerisauan akan nasibnya, setelah tiba di Jakarta. Bagaimana ia harus bersikap? Apa yang harus ia perbuat? Alhasil, karena kegundahannya, Hanum hanya mengaduk-aduk makanannya saja.
Hanum sudah sering mendengar cerita dari para wanita di kampungnya. Wanita-wanita yang sempat terikat kawin kontrak dengan pria dari Jakarta, bahkan ada yang dari luar negeri. Ada yang berakhir indah dengan dijadikan istri sesungguhnya. Ada pula yang berakhir tragis, karena kekerasan dalam rumah tangga.
Setelah selesai makan malam, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke Jakarta. Tanpa sadar, Hanum tertidur dengan kepala bersandar di pintu mobil. Pram yang duduk di sebelahnya memperhatikan Hanum.
'Sebenarnya dia terlalu muda, belum punya pengalaman sama sekali. Semoga saja dia cepat hamil, agar kontrak kami segera berakhir, dan aku bisa kembali bersama Evita'
"Hanum, bangun Nak," Pak Basuki menggoyangkan lengan Hanum pelan. Hanum membuka matanya, lalu diusap sudut bibirnya.
"Sudah sampai ya, Paman?"
"Iya, kita sudah sampai, turunlah," jawab Pak Basuki. Hanum menegakan punggungnya, lalu ke luar dari mobil, dari pintu mobil yang sudah dibukakan Pak Basuki untuknya.
Hanum mendongakan wajah, menatap rumah besar di depannya. Rumah berlantai dua yang tampak indah meski dilihat dalam kegelapan malam.
"Ayo masuk, Bibimu pasti sudah menunggu di dalam."
"Ya, Paman." Hanum mengikuti langkah Pak Basuki yang memasuki rumah. Ia tidak melihat Malik ataupun Pram di dalam rumah.
Bik Cicih, istri Pak Basuki menyambut Hanum dengan pelukan hangatnya.
"Bagaimana kabarmu, Hanum?"
"Aku baik Bik"
"Untung aku datang tepat waktu, Bu. Kalau tidak, entah bagaimana nasib Hanum."
"Harusnya kamu kabari kami kalau ada sesuatu, ataupun butuh bantuan, Num. Jangan sungkan, kami ini orang tuamu juga."
"Aku tidak ingin merepotkan Paman, dan Bibik."
"Hhhh, ayo aku antar ke kamarmu." Bik Cicih membawa Hanum ke kamar yang ada di belakang dapur.
"Ini kamarmu, Num. Kamar mandi ada di sampingnya." Bik Cicih membuka pintu. Hanum mengedarkan pandangannya, tampak terlihat sebuah kamar yang cukup luas dengan satu dipan kecil, dan satu lemari kecil serta satu meja, dan satu kursi di dalamnya.
"Kamar Paman, dan Bibik yang mana?" Tanya Hanum.
"Kami tidak tidur di sini, kami pulang ke rumah kami."
"Jadi aku sendirian di sini, Bik?" Tampak kecemasan nyata terdengar dari suara Hanum. Bik Cicih tersenyum, diusapnya pundak Hanum dengan lembut.
"Ada Tuan Pram di sini, kamu tidak sendirian."
"Tapi aku tidak kenal dia, Bik."
"Meski tidak kenal, tapi sekarang dia sudah jadi suamimu. Tuan Pram itu baik orangnya, walau kadang suka bernada keras saat bicara"
"Apa aku harus memasak untuknya, Bik? Aku tidak tahu harus memasak apa."
"Tidak, Tuan tidak pernah makan di rumah. Nanti aku akan mengajarimu cara menggunakan kompor gas, dan penanak nasi. Kau hanya perlu memasak untuk dirimu sendiri. Sekarang istirahatlah, kami harus pulang sekarang." Bik Cicih ke luar dari kamar, Hanum mengiringi langkahnya. Ada rasa takut karena akan ditinggalkan hanya berdua dengan Pram saja.
"Paman, dan Bibik pulang dulu ya, besok pagi kami ke sini lagi. Turuti saja apapun yang dikatakan Tuan Pram, dia orang baik, kau tidak perlu cemas. Kunci pintunya ya Num." Pak Basuki berusaha menghapus kecemasan dari perasaan Hanum.
Hanum tidak punya pilihan, ia hanya bisa menganggukan kepalanya. Setelah mengunci pintu, Hanum ingin kembali ke kamarnya, tapi suara langkah yang menuruni tangga membuat jantung Hanum berdetak lebih cepat.
"Siapa namamu? Aku lupa" Tanya Pram yang sudah berada di dasar tangga.
"Hanum, Tuan." Hanum menundukan kepalanya dalam. Sedikitpun ia tidak berani menatap wajah Pram.
"Angkat kepalamu, tatap aku saat aku bicara padamu!" Ujar Pram bernada sedikit tinggi. Dengan ragu, Hanum mengangakat wajah, di tatapnya wajah Pram dengan perasaan takut.
'Ya Allah, gantengnya Tuan Pram, seperti artis sinetron gantengnya.'
Mata Hanum tidak bisa lepas lagi dari wajah Pram. Ia layaknya ABG yang tengah mengagumi artis idolanya.
"Kenapa? Apa kau baru pertama kali melihat wajah seorang pria?" Tanya Pram tajam, cepat Hanum menundukan kepalanya.
"Maaf Tuan."
"Ikuti aku!" Pram berbalik lalu melangkah menaiki tangga. Mulut Hanum ternganga, ia masih terpaku di tempatnya.
Merasa Hanum tidak mengikuti langkahnya, Pram menolehkan kepala.
"Hey, kau tidak mendengarkan apa yang aku ucapkan!" Seru Pram, ia tampak kesal karena Hanum masih diam saja.
"Maaf, Tuan." dengan ragu, Hanum melangkah menaiki tangga, Pram melanjutkan langkahnya. Pram berhenti di depan salah satu pintu. Hanum berhenti di belakangnya.
Pram membuka pintu di depannya, "Masuklah!" Perintahnya pada Hanum. Dengan langkah ragu Hanum mengikuti Pram masuk ke dalam kamar itu.
Hanum mengedarkan pandangannya, kamar yang sangat luas dengan ranjang sangat besar di tengahnya. Di salah satu sisi dinding kamar terbuat dari kaca yang memantulkan apapun yang ada di hadapannya. Di sisi lain ada lemari besar dengan empat pintu.
"Dengarkan aku Hanum, sesuai kontrak yang sudah kita sepakati, keberadaanmu di sini adalah untuk melayaniku. Kontrak akan berakhir setelah satu tahun, atau setelah kau hamil. Kau mengerti!?"
"Ya Tuan."
"Sekarang mandilah, kita akan mulai semuanya. Lebih cepat kau hamil, itu lebih baik!" Ucapan Pram membuat mulut Hanum terbuka lebar, matanya menatap Pram dengan kecemasan dalam tatapannya.
"Kau mendengarku, Hanum!?"
"I ... iya ...." Hanum memutar tubuhnya, ingin ke luar dari kamar Pram. Ia ingin kembali ke kamarnya, untuk mandi sebagaimana perintah Pram.
"Kau mau ke mana!?" Seruan Pram membuat langkah Hanum terhenti. Diputar tubuhnya, ditatap Pram dengan perasaan bingung.
"Bu ... bukankah Tuan, meminta saya untuk mandi," jawab Hanum dengan suara bergetar.
"Itu kamar mandinya, Hanum!" Pram menunjuk ke sebuah pintu.
"Tapi, tapi saya tidak membawa handuk."
"Di dalam kamar mandi, ada lemari yang berisi handuk!"
"Tapi, tapi saya tidak membawa baju ganti"
"Untuk apa baju ganti, kau tidak perlu baju untuk melayaniku di atas ranjang!"
Mulut, dan mata Hanum kembali terbuka lebar, ia tidak menyangka jika Pram mengucapkan hal seperti itu dengan gamblangnya. Wajah Hanum memerah, jantungnya berpacu cepat. Hatinya semakin terasa cemas.
"Kenapa kau diam! Cepat mandi! Aku tidak ingin membuang banyak waktuku dengan gadis dusun sepertimu. Semakin cepat kau hamil, semakin bagus!"
Hanum menundukan kepalanya, dengan langkah ragu ia menuju pintu yang ditunjuk Pram tadi.
'Ya Allah, ampunilah dosaku, karena sudah mempermainkan sebuah pernikahan.'

👉👉3.MALAM PERTAMA👈👈

Hanum mengedarkan pandangannya dalam kamar mandi di kamar Pram.
"Kamar mandinya saja lebih luas dari kamar tidurku di kampung," gumam Hanum, ia meraba meja tempat wastafel berada, ditatap wajahnya yang terpantul dari cermin besar di depannya. Ia meraba bibir.
"Apa nanti Tuan Pram akan mencium bibirku? Teh Iie bilang dicium itu enak, enak apanya ya? Bagaimana kalau bibirku tergigit Tuan Pram?"
"Hanum! Kau mandi atau apa?" Teriakan Pram terdengar dari luar pintu kamar mandi, karena sejak tadi ia tidak mendengar bunyi shower yang menandakan Hanum tengah mandi.
"Sebentar Tuan!" Jawab Hanum yang cepat melepasi pakaiannya. Untungnya, meski tinggal di dusun, tapi Hanum cukup tahu caranya mandi dengan menggunakan shower. Cepat ia membasahi tubuhnya, membersihkan dirinya dengan sabun cair yang ada di sana. Membersihkan rambutnya dengan shampoo yang sering dilihatnya di iklan televisi. Cepat pula ia membilas diri, baru mengambil handuk dari lemari kaca yang tergantung di dinding kamar mandi.
Hanum sudah mengeringkan tubuhnya, membumgkus rambutnya yang basah. Ia ragu melangkahkan kakinya untuk ke luar dari dalam kamar mandi. Ditatap dirinya di cermin, digigit bibir bawahnya, saat melihat tubuhnya hanya terbungkus handuk saja.
"Hanum!" Gedoran di pintu membuat Hanum terjengkit kaget. Cepat ia membuka pintu kamar mandi. Dengan wajah tertunduk dalam, Hanum berdiri di hadapan Pram.
"Maju, dan tutup pintu kamar mandinya!" Perintah Pram sambil menggapaikan tangannya. Hanum menutup pintu kamar mandi, lalu dengan langkah ragu ia mendekati Pram, dengan wajahnya yang masih tertunduk dalam.
"Lepaskan handukmu!" Spontan Hanum mengangkat wajahnya, ia menatap Pram dengan mulut ternganga.
"Kenapa? Hmmm, biar aku yang melepaskan handukmu," dengan sekali sentak, handuk di tubuh Hanum jatuh di bawah kakinya.
Wajah Hanum pucat pasi, seumur hidupnya baru kali ini ia bertelanjang polos di depan orang lain. Satu tangannya menyilang di dada, yang satu lagi menutup aset paling berharga miliknya. Ia tidak berani menatap pantulan tubuhnya dari cermin besar yang menjadi dinding kamar Pram.
Pram menatap setiap inci tubuh Hanum dengan teliti.
"Aku harus memastikan, kalau kau tidak punya penyakit kulit yang menular, kudis, kurap, atau panu. Karena aku tidak ingin tertular penyakitmu!" Ucap Pram di balik punggung Hanum. Hanum memejamkan mata, dan menggigit bagian dalam bibir bawahnya.
Hanum bisa merasakan napas Pram di kulit punggungnya. Lutut Hanum terasa gemetar, rasa takut, rasa cemas, dan entah rasa apa lagi yang ia tidak tahu namanya membuatnya mulai berdiri dengan gelisah.
"Lepaskan tanganmu!" Hanum terjengkit kaget karena Pram sudah berdiri di hadapannya, bertolak pinggang dengan angkuhnya.
Dengan ragu, Hanum menurunkan tangannya yang menutupi dada, dan melepas tangan yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Angkat kepalamu!" Perintah Pram, yang berdiri sangat dekat dengan Hanum. Hanum mengangkat kepalanya, ia mendongak hingga Pram bisa meneliti lehernya. Bukan cuma lehernya yang diteliti Pram, tapi lubang telinganya juga. Pram menjatuhkan handuk yang menutupi rambut Hanum. Disibaknya rambut Hanum dengan jemarinya.
"Kau tidak ketombeankan? Tidak ada kutu di kepalamukan?" Pertanyaan Pram dijawab Hanum dengan menggelengkan kepalanya. Fokus Pram beralih ke bahu Hanum, ada memar berwarna merah di sana, bekas dipukul ibu tirinya dengan gagang sapu ijuk.
"Ini kenapa?" Pram menyentuh memar di bahu Hanum.
"Jatuh," jawab Hanum sekenanya.
"Jatuh, setahuku orang kalau jatuh, di bagian kaki itu pasti lutut yang terluka, kalau dibagian tangan, siku atau telapak tangan yang terluka. Tapi kenapa kau jatuh, bahumu yang memar?"
"Kejatuhan balok kayu," jawab Hanum lagi.
"Hmmm, apa rumahmu sangat reyot sampai ada balok kayu yang jatuh ke bahumu?" Pram sepertinya tidak puas dengan jawaban Hanum. Hanum diam saja, ia tidak menyangka kalau Pram ternyata cerewet orangnya.
Fokus Pram beralih ke dada Hanum yang masih belum matang.
"Dadamu sangat kecil!" Tangan Pram terulur, kedua telapak tangannya menenggelamkam dada Hanum dalam tangkupannya. Hanum terjengkit mundur, wajahnya semakin pias.
Pram menatapnya dengan tajam.
"Apa kau tidak tahu cara pria, dan wanita berhubungan intim?" Pertanyaan Pram dijawab Hanum dengan gelengan kepalanya.
"Hhhhh, harusnya Pak Basuki mencarikan aku wanita yang sudah janda saja, agar aku tidak perlu mengajarinya. Bukannya gadis bau kencur sepertimu, yang belum mengerti apa-apa!" Pram mendengus dengan perasaan kesal.
"Maju!" Pram memerintahkan Hanum untuk maju mendekatinya. Pram kembali meneliti setiap inci bagian depan tubuh Hanum. Bahkan ia berlutut untuk memeriksa bagian paha, dan kaki Hanum. Lutut Hanum bergetar hebat, ia memejamkan matanya saat wajah Pram berada begitu dekat dengan miliknya.
Pram menegakan punggungnya.
"Cukup bagus, tidak ada kudis, kurap, ataupun panu di tubuhmu. Tapi banyak goresan di kakimu, kenapa?"
"Tergores ranting di hutan," jawab Hanum pelan.
"Tatap aku saat bicara denganku, Hanum!" Hanum mengangkat wajahnya yang menunduk, ditatapnya wajah Pram dengan rasa takut.
"Untuk apa kau ke hutan?"
"Mencari kayu bakar," jawab Hanum polos.
"Kayu bakar? Haah, aku kira di zaman semodern ini tidak ada lagi orang yang memasak dengan kayu bakar! Apa kau juga mencuci pakaianmu di sungai?" Tanya Pram dengan nada sinis mengejek. Hanum menganggukan kepalanya.
"Kau punya ibu tiri dan saudara tirikan?"
Hanum kembali mengangguk.
"Apa saat kau mencuci di sungai, pakaianmu hanyut, lalu kau bertemu dengan seorang nenek yang memberimu labu berisi emas, hahahaha. Hidupmu layaknya cerita bawang putih, dan bawang merah saja, Hanum!" Pram tergelak karena ucapannya sendiri, sedang Hanum menatap wajah Pram tanpa berkedip. Hanum terpesona dengan ketampanan wajah Pram, ia belum pernah melihat pria setampan Pram sebelumnya.
"Hmmm, sebaiknya kita mulai sekarang. Kau tidak boleh menolak ataupun protes terhadap apapun yang akan aku lakukan padamu. Kau paham!?"
"Ya Tuan"
"Berbaringlah!" Pram menunjuk ranjang besar di belakangnya. Hanum melangkah ragu, tapi dikuatkan hatinya. Ia berbaring di atas ranjang besar itu. Pram masuk ke dalam kamar mandi. Hanum menatap langit-langit kamar dengan berbagai bayangan yang membuatnya merasa cemas, dan ketakutan.
'Kata Teh Dedeh, malam pertama itu sakit, perih, pedih, tapi enak. Apa ada luka yang bikin enak? Bagaimana nanti kalau sakit sekali? Bagaimana kalau aku menjerit terus terdengar tetangga? Bagaimana nanti kalau darah yang ke luar banyak? Bagai ....'
Lamunan Hanum terputus, saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia menolehkan kepala, mata, dan mulutnya terbuka lebar, Pram berjalan ke arahnya dengan tanpa busana, Hanum merasa pandangannya mengabur, jantungnya berpacu lebih cepat, kepalanya terasa sakit dengan tiba-tiba. Kecemasan luar biasa tengah menyergap perasaannya. Membuat keringat dingin ke luar dari pori-pori kulitnya.

👉👉👉
Unduh aplikasi untuk membaca lebih banyak konten menarik“The Escorted Wife”

Top 3 Ad Creative of BookMate-Reading Completes Me

Ad Details :

Headline :❤️❤️❤️❤️Unduh aplikasi untuk membaca lebih banyak konten menarik《The Escorted Wife》

Text :👉👉1.NIKAH SIRI👈👈

Pramudya Atmajaya (37 tahun), mengusap wajah dengan satu telapak tangan. Ditatapnya Evita Triana (32 tahun), istrinya. Mantan istri tepatnya, karena Pram sudah menjatuhkan talak pada Evita, tepat di hadapan orang tua Evita. Tapi mereka belum mengurus surat cerai mereka. "Itu syaratnya jika Mas ingin kita bersama lagi. Aku perlu bukti kalau Mas bisa mempunyai anak" ujar Evita pada Pram, ditatapnya wajah muram Pram dengan intens.
Anak, itulah akar dari permasalahan rumah tangga mereka. Mereka berdua terlahir sebagai anak tunggal, tuntutan untuk mempunyai momongan terus diucapkan orang tua kedua belah pihak. Mereka sudah 8 tahun menikah, tapi belum juga memiliki keturunan.
Meski pemeriksaan menyatakan mereka berdua sehat, tapi Evita meyakini kalau Pram lah yang memiliki kelemahan. Karena Evita sendiri sebelumnya pernah hamil sebelum menikah dengan Pram. Hamil saat ia masih sekolah, dan terpaksa digugurkan demi masa depannya. Karena itulah Evita sangat yakin, kalau dirinya sehat. Masalah keturunan yang menjadi problem rumah tangga mereka berasal dari Pram. Bukan dari dirinya. Orang tua Evita sangat menginginkan untuk segera memiliki cucu. Sehingga Evita meminta syarat itu pada Pram. Untuk pembuktian, kalau Pram benar-benar tidak mandul.
Pram mengusap wajah dengan satu tangannya. Permintaan Evita terasa di luar nalarnya. Bagaimana ia harus membayar seorang wanita, untuk dinikahi, ditiduri agar bisa hamil. Sebagai bukti kalau dirinya tidak mandul. Itu sangat tidak masuk akal bagi Pram. Tapi, itu yang harus ia lakukan, kalau ingin kembali pada Evita.
"Di mana aku harus mencari wanita yang bisa aku bayar untuk aku nikahi Vi?" Tanya Pram dengan perasaan bingung. Ia benar-benar tidak tahu, kemana mencari istri yang bisa ia kawin secara kontrak.
"Itu gampang Mas, Mas bisa minta carikan Pak Basuki, di kampungnya aku dengar banyak wanita yang bersedia kawin kontrak" jawab Evita.
“Apa tidak bisa kita rujuk tanpa syarat itu, Vi?”
“Tidak bisa,Mas.
"Aku menyesal sudah mengucapkan kata keramat itu padamu." Pram menggenggam tangan Evita lembut, sorot matanya sangat jelas menyiratkan cinta yang mendalam pada Evita. Cinta yang membuatnya tidak perduli akan masa lalu Evita.
Pram jatuh cinta pada pandang pertama dengan Evita. Saat itu mereka bertemu di acara pesta ulang tahun pernikahan orang tua Evita. Pram yang baru pulang dari menuntut ilmu di Amerika, tidak menolak sedikitpun saat orang tuanya dan orang tua Evita menyampaikan keinginan mereka untuk menjadi besan.
Evita anak tunggal, begitupun Pram juga. Pastinya kedua keluarga mengharapkan penerus dari pernikahan mereka.
Karena cintanya pada Evita, Pram tidak mempermasalahkan Evita yang sudah tidak perawan lagi. Karena Pram sendiripun memiliki kehidupan cukup bebas saat tinggal di luar negeri.
Namun, ditahun ke lima pernikahan mereka, mulai muncul riak-riak di antara mereka berdua. Mereka berdua sama-sama sibuk bekerja, tuntutan orang tua tentang keturunan membuat mereka kerap bertengkar dan saling menyalahkan. Pram meminta Evita berhenti bekerja, agar bisa fokus pada rumah tangga mereka. Tapi Evita menuding Pramlah yang bermasalah sehingga Evita belum hamil juga. Pram marah, dan semakin marah, saat Evita meminta cerai, dan mengatakan kalau ia akan membuktikan kalau ia bisa segera hamil bila menikah dengan pria lain. Hal itulah yang membuat Pram tanpa sadar mengucapkan talak di hadapan orang tua Evita. Ucapan yang sangat disesalinya. Evita bersedia rujuk kembali dengannya, dengan syarat seperti yang dikatakannya.
Hanum Lestari (17 tahun), gadis yatim piatu. Ia menatap Pak Basuki yang baru saja menyelamatkannya dari kekejaman ibu dan kakak tirinya. Ibu tiri dan kakak tirinya berniat menjualnya, untuk bisa melunasi hutang almarhum ayahnya. Untungnya Pak Basuki datang dengan membawa uang untuk melunasi hutang ayah Hanum, yang merupakan kakak kandung Pak Basuki sendiri.
Dan saat ini, Pak Basuki tengah menjelaskan tentang dari mana asal usul uang yang diakai untuk membayar hutang. Hanum mengerjapkan matanya, ia bingung harus berkata apa.
"Jujur, sebenarnya Paman pulang untuk mencari wanita di desa ini yang bersedia dinikahi oleh majikan Paman hanya untuk satu tahun saja. Tidak ada sedikitpun niat Paman untuk melibatkanmu, tapi uang yang harusnya Paman pakai untuk diberikan pada wanita yang bersedia ikut ke Jakarta. Sudah Paman pakai sebagian untuk membayar hutang almarhum ayahmu. Kawin kontrak memang bukanlah hal yang baik, tapi saat ini kita tidak punya pilihan Hanum. Setelah satu tahun dan kontrakmu berakhir, bisa kita pikirkan apa yang harus kamu lakukan, Hanum. Sekarang juga kamu harus bersedia menikah dengan majikan Paman, dia sedang menunggu di salah satu penginapan di kota kecamatan, ikutlah dengan Paman, bawalah pakaianmu seperlunya saja" ujar Pak Basuki.
"Ya Paman" hanya itu yang bisa Hanum ucapkan. Ia tidak tahu, apakah harus senang karena terbebas dari ibu tiri, dan kakak tirinya. Ataukah harus sedih karena akan menjadi wanita yang akan menjalani kehidupan sebagai istri bayaran.
Pram menatap Hanum dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. Daster batik yang warnanya sudah pudar, melekat di tubuh kecil Hanum yang bagi Pram tidak ada menariknya. Rambut panjangnyana hanya dikuncir satu di atas kepalanya yang menunduk dalam. Hanya kulitnya yang putih yang menarik perhatian Pram.
"Apa tidak ada lagi wanita yang lebih baik dari dia, Pak Basuki? Dia terlalu muda, masih bocah ingusan" ujar Pramudya tajam.
"Maaf Tuan, yang gadis tinggal Hanum ini yang saya kenal. Kalau yang lain sudah janda dari kawin kontrak juga" jawab Pak Basuki.
"Sebenarnya tidak masalah kalau janda, asalkan bisa taat pada kontrak yang akan ditanda tangani. Hmmm, tapi tidak apalah. Lalu siapa yang akan jadi wali nikahnya? Kenapa ayahnya tidak ikut datang ke sini?"
"Hanum ini yatim piatu Tuan, saya yang akan jadi walinya, karena ayahnya adalah kakak kandung saya"
"Ooh begitu. Baiklah, surat perjanjiannya sudah disiapkan oleh Malik, kau membawa orang yang akan menikahkan kami jugakan?" Tanya Pram pada Pak Basuki. Malik adalah pengacara sekaligus orang kepercayaan Pram.
"Ya Tuan"
"Ingat, hal ini jangan sampai terdengar oleh orang lain. Terutama orang tuaku, dan orang tua Evi, mereka tidak boleh tahu. Status, ehmm siapa tadi namanya?"
"Hanum, Tuan"
"Ya, status Hanum sama seperti statusmu dan juga istrimu. Paham Pak Basuki?"
"Paham Tuan" jawab Pak Basuki. Hanum masih berdiri di samping Pak Basuki dengan wajah menunduk. Ia tidak berani mengangkat kepalanya untuk melihat pria di hadapannya. Pria yang akan jadi suaminya hanya untuk sementara. Di kampungnya, hal seperti itu sudah biasa. Dan, Hanum tidak pernah menyangka, kalau ia akan terjebak dalam situasi seperti gadis lain di desanya.

👉👉2.KE JAKARTA👈👈

Akad nikah sudah berlangsung, di dalam kamar hotel tempat Pram menginap.
"Hari ini juga, kita pulang ke Jakarta."
"Baik Tuan," sahut Pak Basuki.
Dalam perjalanan menuju pulang, hari sudah beranjak malam. Pak Basuki duduk di depan bersama Malik, sedang Pram duduk berdua dengan Hanum di jok belakang. Sedikitpun Hanum tidak berani menatap wajah Pram, pandangannya ditujukan ke luar jendela. Menikmati pemandangan yang belum pernah dilihatnya. Karena ini pertama kalinya ia ke luar dari kampungnya.
Pram meminta Pak Basuki berhenti di sebuah rumah makan, untuk makan malam. Hanum tetap saja tidak berani menatap wajah pria yang sudah jadi suaminya. Ada kegelisahan yang dirasakannya, ada kerisauan akan nasibnya, setelah tiba di Jakarta. Bagaimana ia harus bersikap? Apa yang harus ia perbuat? Alhasil, karena kegundahannya, Hanum hanya mengaduk-aduk makanannya saja.
Hanum sudah sering mendengar cerita dari para wanita di kampungnya. Wanita-wanita yang sempat terikat kawin kontrak dengan pria dari Jakarta, bahkan ada yang dari luar negeri. Ada yang berakhir indah dengan dijadikan istri sesungguhnya. Ada pula yang berakhir tragis, karena kekerasan dalam rumah tangga.
Setelah selesai makan malam, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke Jakarta. Tanpa sadar, Hanum tertidur dengan kepala bersandar di pintu mobil. Pram yang duduk di sebelahnya memperhatikan Hanum.
'Sebenarnya dia terlalu muda, belum punya pengalaman sama sekali. Semoga saja dia cepat hamil, agar kontrak kami segera berakhir, dan aku bisa kembali bersama Evita'
"Hanum, bangun Nak," Pak Basuki menggoyangkan lengan Hanum pelan. Hanum membuka matanya, lalu diusap sudut bibirnya.
"Sudah sampai ya, Paman?"
"Iya, kita sudah sampai, turunlah," jawab Pak Basuki. Hanum menegakan punggungnya, lalu ke luar dari mobil, dari pintu mobil yang sudah dibukakan Pak Basuki untuknya.
Hanum mendongakan wajah, menatap rumah besar di depannya. Rumah berlantai dua yang tampak indah meski dilihat dalam kegelapan malam.
"Ayo masuk, Bibimu pasti sudah menunggu di dalam."
"Ya, Paman." Hanum mengikuti langkah Pak Basuki yang memasuki rumah. Ia tidak melihat Malik ataupun Pram di dalam rumah.
Bik Cicih, istri Pak Basuki menyambut Hanum dengan pelukan hangatnya.
"Bagaimana kabarmu, Hanum?"
"Aku baik Bik"
"Untung aku datang tepat waktu, Bu. Kalau tidak, entah bagaimana nasib Hanum."
"Harusnya kamu kabari kami kalau ada sesuatu, ataupun butuh bantuan, Num. Jangan sungkan, kami ini orang tuamu juga."
"Aku tidak ingin merepotkan Paman, dan Bibik."
"Hhhh, ayo aku antar ke kamarmu." Bik Cicih membawa Hanum ke kamar yang ada di belakang dapur.
"Ini kamarmu, Num. Kamar mandi ada di sampingnya." Bik Cicih membuka pintu. Hanum mengedarkan pandangannya, tampak terlihat sebuah kamar yang cukup luas dengan satu dipan kecil, dan satu lemari kecil serta satu meja, dan satu kursi di dalamnya.
"Kamar Paman, dan Bibik yang mana?" Tanya Hanum.
"Kami tidak tidur di sini, kami pulang ke rumah kami."
"Jadi aku sendirian di sini, Bik?" Tampak kecemasan nyata terdengar dari suara Hanum. Bik Cicih tersenyum, diusapnya pundak Hanum dengan lembut.
"Ada Tuan Pram di sini, kamu tidak sendirian."
"Tapi aku tidak kenal dia, Bik."
"Meski tidak kenal, tapi sekarang dia sudah jadi suamimu. Tuan Pram itu baik orangnya, walau kadang suka bernada keras saat bicara"
"Apa aku harus memasak untuknya, Bik? Aku tidak tahu harus memasak apa."
"Tidak, Tuan tidak pernah makan di rumah. Nanti aku akan mengajarimu cara menggunakan kompor gas, dan penanak nasi. Kau hanya perlu memasak untuk dirimu sendiri. Sekarang istirahatlah, kami harus pulang sekarang." Bik Cicih ke luar dari kamar, Hanum mengiringi langkahnya. Ada rasa takut karena akan ditinggalkan hanya berdua dengan Pram saja.
"Paman, dan Bibik pulang dulu ya, besok pagi kami ke sini lagi. Turuti saja apapun yang dikatakan Tuan Pram, dia orang baik, kau tidak perlu cemas. Kunci pintunya ya Num." Pak Basuki berusaha menghapus kecemasan dari perasaan Hanum.
Hanum tidak punya pilihan, ia hanya bisa menganggukan kepalanya. Setelah mengunci pintu, Hanum ingin kembali ke kamarnya, tapi suara langkah yang menuruni tangga membuat jantung Hanum berdetak lebih cepat.
"Siapa namamu? Aku lupa" Tanya Pram yang sudah berada di dasar tangga.
"Hanum, Tuan." Hanum menundukan kepalanya dalam. Sedikitpun ia tidak berani menatap wajah Pram.
"Angkat kepalamu, tatap aku saat aku bicara padamu!" Ujar Pram bernada sedikit tinggi. Dengan ragu, Hanum mengangakat wajah, di tatapnya wajah Pram dengan perasaan takut.
'Ya Allah, gantengnya Tuan Pram, seperti artis sinetron gantengnya.'
Mata Hanum tidak bisa lepas lagi dari wajah Pram. Ia layaknya ABG yang tengah mengagumi artis idolanya.
"Kenapa? Apa kau baru pertama kali melihat wajah seorang pria?" Tanya Pram tajam, cepat Hanum menundukan kepalanya.
"Maaf Tuan."
"Ikuti aku!" Pram berbalik lalu melangkah menaiki tangga. Mulut Hanum ternganga, ia masih terpaku di tempatnya.
Merasa Hanum tidak mengikuti langkahnya, Pram menolehkan kepala.
"Hey, kau tidak mendengarkan apa yang aku ucapkan!" Seru Pram, ia tampak kesal karena Hanum masih diam saja.
"Maaf, Tuan." dengan ragu, Hanum melangkah menaiki tangga, Pram melanjutkan langkahnya. Pram berhenti di depan salah satu pintu. Hanum berhenti di belakangnya.
Pram membuka pintu di depannya, "Masuklah!" Perintahnya pada Hanum. Dengan langkah ragu Hanum mengikuti Pram masuk ke dalam kamar itu.
Hanum mengedarkan pandangannya, kamar yang sangat luas dengan ranjang sangat besar di tengahnya. Di salah satu sisi dinding kamar terbuat dari kaca yang memantulkan apapun yang ada di hadapannya. Di sisi lain ada lemari besar dengan empat pintu.
"Dengarkan aku Hanum, sesuai kontrak yang sudah kita sepakati, keberadaanmu di sini adalah untuk melayaniku. Kontrak akan berakhir setelah satu tahun, atau setelah kau hamil. Kau mengerti!?"
"Ya Tuan."
"Sekarang mandilah, kita akan mulai semuanya. Lebih cepat kau hamil, itu lebih baik!" Ucapan Pram membuat mulut Hanum terbuka lebar, matanya menatap Pram dengan kecemasan dalam tatapannya.
"Kau mendengarku, Hanum!?"
"I ... iya ...." Hanum memutar tubuhnya, ingin ke luar dari kamar Pram. Ia ingin kembali ke kamarnya, untuk mandi sebagaimana perintah Pram.
"Kau mau ke mana!?" Seruan Pram membuat langkah Hanum terhenti. Diputar tubuhnya, ditatap Pram dengan perasaan bingung.
"Bu ... bukankah Tuan, meminta saya untuk mandi," jawab Hanum dengan suara bergetar.
"Itu kamar mandinya, Hanum!" Pram menunjuk ke sebuah pintu.
"Tapi, tapi saya tidak membawa handuk."
"Di dalam kamar mandi, ada lemari yang berisi handuk!"
"Tapi, tapi saya tidak membawa baju ganti"
"Untuk apa baju ganti, kau tidak perlu baju untuk melayaniku di atas ranjang!"
Mulut, dan mata Hanum kembali terbuka lebar, ia tidak menyangka jika Pram mengucapkan hal seperti itu dengan gamblangnya. Wajah Hanum memerah, jantungnya berpacu cepat. Hatinya semakin terasa cemas.
"Kenapa kau diam! Cepat mandi! Aku tidak ingin membuang banyak waktuku dengan gadis dusun sepertimu. Semakin cepat kau hamil, semakin bagus!"
Hanum menundukan kepalanya, dengan langkah ragu ia menuju pintu yang ditunjuk Pram tadi.
'Ya Allah, ampunilah dosaku, karena sudah mempermainkan sebuah pernikahan.'

👉👉3.MALAM PERTAMA👈👈

Hanum mengedarkan pandangannya dalam kamar mandi di kamar Pram.
"Kamar mandinya saja lebih luas dari kamar tidurku di kampung," gumam Hanum, ia meraba meja tempat wastafel berada, ditatap wajahnya yang terpantul dari cermin besar di depannya. Ia meraba bibir.
"Apa nanti Tuan Pram akan mencium bibirku? Teh Iie bilang dicium itu enak, enak apanya ya? Bagaimana kalau bibirku tergigit Tuan Pram?"
"Hanum! Kau mandi atau apa?" Teriakan Pram terdengar dari luar pintu kamar mandi, karena sejak tadi ia tidak mendengar bunyi shower yang menandakan Hanum tengah mandi.
"Sebentar Tuan!" Jawab Hanum yang cepat melepasi pakaiannya. Untungnya, meski tinggal di dusun, tapi Hanum cukup tahu caranya mandi dengan menggunakan shower. Cepat ia membasahi tubuhnya, membersihkan dirinya dengan sabun cair yang ada di sana. Membersihkan rambutnya dengan shampoo yang sering dilihatnya di iklan televisi. Cepat pula ia membilas diri, baru mengambil handuk dari lemari kaca yang tergantung di dinding kamar mandi.
Hanum sudah mengeringkan tubuhnya, membumgkus rambutnya yang basah. Ia ragu melangkahkan kakinya untuk ke luar dari dalam kamar mandi. Ditatap dirinya di cermin, digigit bibir bawahnya, saat melihat tubuhnya hanya terbungkus handuk saja.
"Hanum!" Gedoran di pintu membuat Hanum terjengkit kaget. Cepat ia membuka pintu kamar mandi. Dengan wajah tertunduk dalam, Hanum berdiri di hadapan Pram.
"Maju, dan tutup pintu kamar mandinya!" Perintah Pram sambil menggapaikan tangannya. Hanum menutup pintu kamar mandi, lalu dengan langkah ragu ia mendekati Pram, dengan wajahnya yang masih tertunduk dalam.
"Lepaskan handukmu!" Spontan Hanum mengangkat wajahnya, ia menatap Pram dengan mulut ternganga.
"Kenapa? Hmmm, biar aku yang melepaskan handukmu," dengan sekali sentak, handuk di tubuh Hanum jatuh di bawah kakinya.
Wajah Hanum pucat pasi, seumur hidupnya baru kali ini ia bertelanjang polos di depan orang lain. Satu tangannya menyilang di dada, yang satu lagi menutup aset paling berharga miliknya. Ia tidak berani menatap pantulan tubuhnya dari cermin besar yang menjadi dinding kamar Pram.
Pram menatap setiap inci tubuh Hanum dengan teliti.
"Aku harus memastikan, kalau kau tidak punya penyakit kulit yang menular, kudis, kurap, atau panu. Karena aku tidak ingin tertular penyakitmu!" Ucap Pram di balik punggung Hanum. Hanum memejamkan mata, dan menggigit bagian dalam bibir bawahnya.
Hanum bisa merasakan napas Pram di kulit punggungnya. Lutut Hanum terasa gemetar, rasa takut, rasa cemas, dan entah rasa apa lagi yang ia tidak tahu namanya membuatnya mulai berdiri dengan gelisah.
"Lepaskan tanganmu!" Hanum terjengkit kaget karena Pram sudah berdiri di hadapannya, bertolak pinggang dengan angkuhnya.
Dengan ragu, Hanum menurunkan tangannya yang menutupi dada, dan melepas tangan yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Angkat kepalamu!" Perintah Pram, yang berdiri sangat dekat dengan Hanum. Hanum mengangkat kepalanya, ia mendongak hingga Pram bisa meneliti lehernya. Bukan cuma lehernya yang diteliti Pram, tapi lubang telinganya juga. Pram menjatuhkan handuk yang menutupi rambut Hanum. Disibaknya rambut Hanum dengan jemarinya.
"Kau tidak ketombeankan? Tidak ada kutu di kepalamukan?" Pertanyaan Pram dijawab Hanum dengan menggelengkan kepalanya. Fokus Pram beralih ke bahu Hanum, ada memar berwarna merah di sana, bekas dipukul ibu tirinya dengan gagang sapu ijuk.
"Ini kenapa?" Pram menyentuh memar di bahu Hanum.
"Jatuh," jawab Hanum sekenanya.
"Jatuh, setahuku orang kalau jatuh, di bagian kaki itu pasti lutut yang terluka, kalau dibagian tangan, siku atau telapak tangan yang terluka. Tapi kenapa kau jatuh, bahumu yang memar?"
"Kejatuhan balok kayu," jawab Hanum lagi.
"Hmmm, apa rumahmu sangat reyot sampai ada balok kayu yang jatuh ke bahumu?" Pram sepertinya tidak puas dengan jawaban Hanum. Hanum diam saja, ia tidak menyangka kalau Pram ternyata cerewet orangnya.
Fokus Pram beralih ke dada Hanum yang masih belum matang.
"Dadamu sangat kecil!" Tangan Pram terulur, kedua telapak tangannya menenggelamkam dada Hanum dalam tangkupannya. Hanum terjengkit mundur, wajahnya semakin pias.
Pram menatapnya dengan tajam.
"Apa kau tidak tahu cara pria, dan wanita berhubungan intim?" Pertanyaan Pram dijawab Hanum dengan gelengan kepalanya.
"Hhhhh, harusnya Pak Basuki mencarikan aku wanita yang sudah janda saja, agar aku tidak perlu mengajarinya. Bukannya gadis bau kencur sepertimu, yang belum mengerti apa-apa!" Pram mendengus dengan perasaan kesal.
"Maju!" Pram memerintahkan Hanum untuk maju mendekatinya. Pram kembali meneliti setiap inci bagian depan tubuh Hanum. Bahkan ia berlutut untuk memeriksa bagian paha, dan kaki Hanum. Lutut Hanum bergetar hebat, ia memejamkan matanya saat wajah Pram berada begitu dekat dengan miliknya.
Pram menegakan punggungnya.
"Cukup bagus, tidak ada kudis, kurap, ataupun panu di tubuhmu. Tapi banyak goresan di kakimu, kenapa?"
"Tergores ranting di hutan," jawab Hanum pelan.
"Tatap aku saat bicara denganku, Hanum!" Hanum mengangkat wajahnya yang menunduk, ditatapnya wajah Pram dengan rasa takut.
"Untuk apa kau ke hutan?"
"Mencari kayu bakar," jawab Hanum polos.
"Kayu bakar? Haah, aku kira di zaman semodern ini tidak ada lagi orang yang memasak dengan kayu bakar! Apa kau juga mencuci pakaianmu di sungai?" Tanya Pram dengan nada sinis mengejek. Hanum menganggukan kepalanya.
"Kau punya ibu tiri dan saudara tirikan?"
Hanum kembali mengangguk.
"Apa saat kau mencuci di sungai, pakaianmu hanyut, lalu kau bertemu dengan seorang nenek yang memberimu labu berisi emas, hahahaha. Hidupmu layaknya cerita bawang putih, dan bawang merah saja, Hanum!" Pram tergelak karena ucapannya sendiri, sedang Hanum menatap wajah Pram tanpa berkedip. Hanum terpesona dengan ketampanan wajah Pram, ia belum pernah melihat pria setampan Pram sebelumnya.
"Hmmm, sebaiknya kita mulai sekarang. Kau tidak boleh menolak ataupun protes terhadap apapun yang akan aku lakukan padamu. Kau paham!?"
"Ya Tuan"
"Berbaringlah!" Pram menunjuk ranjang besar di belakangnya. Hanum melangkah ragu, tapi dikuatkan hatinya. Ia berbaring di atas ranjang besar itu. Pram masuk ke dalam kamar mandi. Hanum menatap langit-langit kamar dengan berbagai bayangan yang membuatnya merasa cemas, dan ketakutan.
'Kata Teh Dedeh, malam pertama itu sakit, perih, pedih, tapi enak. Apa ada luka yang bikin enak? Bagaimana nanti kalau sakit sekali? Bagaimana kalau aku menjerit terus terdengar tetangga? Bagaimana nanti kalau darah yang ke luar banyak? Bagai ....'
Lamunan Hanum terputus, saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia menolehkan kepala, mata, dan mulutnya terbuka lebar, Pram berjalan ke arahnya dengan tanpa busana, Hanum merasa pandangannya mengabur, jantungnya berpacu lebih cepat, kepalanya terasa sakit dengan tiba-tiba. Kecemasan luar biasa tengah menyergap perasaannya. Membuat keringat dingin ke luar dari pori-pori kulitnya.

👉👉👉
Unduh aplikasi untuk membaca lebih banyak konten menarik“The Escorted Wife”

Basic Info of Top 3 Ad Creative

  1st 2nd 3rd
Duration 29 37 28
Popularity 147 107 91
Dimensions 600 x 600 600 x 600 600 x 600
Creative Type Image Image Image
Network Facebook Facebook Facebook
Related Ads 1 3 2
Countries Indonesia Indonesia Indonesia
Language Indonesian Indonesian Indonesian

Through the above analysis, we can see that the most effective channel for BookMate-Reading Completes Me in recent advertising is Facebook, and the main creative type is Image.

In conclusion: The above is a free BookMate-Reading Completes Me's competitive intelligence analysis report. To do a good job of advertising, long-term accumulation is required. we need to constantly check the latest trends and competitive intelligence data. With the use of competitive intelligence tools like SocialPeta, Guangdada(Chinese version of SocialPeta), we can improve our ROI, and make competitor‘s fans ours. I hope that this ad creative analysis report will allow you to gain more.

If you want to check the relevant intelligence analysis of other apps similar to BookMate-Reading Completes Me, you can click the app name below to view related reports, or you can find more info in ASOTools.